Sosialisasi SEPMT tahun 2026 di Lampung, OJK : Pasar Modal Masih Menunjukkan Tren Positif

LAMPUNG, DeRAPINDONESIA.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menggelar Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) tahun 2026 melalui kegiatan Media Gathering bersama Media Lokal se-Provinsi Lampung di Hotel Mercure Bandar Lampung, Senin (19/5/2026).

Kegiatan yang di moderatori oleh Dati Ciptia Putri, staf Kantor OJK Provinsi Lampung ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Bayu Samodro, Kepala Direktorat Analisis Informasi dan manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hendi Prayogi, Kepala Wilayah Lampung Kantor Perwakilan BEI Lampung dan Mauldy R.Makmur, Direktur Ekskutif Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia.

Kepala Direktorat Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Bayu Samodro, mengatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski pasar modal mengalami dinamika akibat sentimen eksternal

Disebutkan bahwa, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada level positif dalam beberapa tahun terakhir.

“Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,31 persen pada 2022, kemudian 5,05 persen pada 2023, 5,03 persen pada 2024, dan meningkat menjadi 5,11 persen pada 2025. Pada Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tetap terjaga di angka 5,61 persen.” paparnya

Menurut Bayu, Gejolak di pasar modal bersifat temporal dan dipengaruhi sentimen eksternal. Namun, indikator riil pertumbuhan ekonomi menunjukkan Indonesia memiliki basis fundamental yang kuat untuk tetap tumbuh positif.

OJK juga mencatat sejumlah indikator pasar modal masih menunjukkan tren positif. Penghimpunan dana korporasi di pasar modal sepanjang 2025 berhasil melampaui target Rp200 triliun dan ditargetkan meningkat menjadi Rp250 triliun pada 2026.

“Rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham meningkat signifikan sepanjang 2025 dan tetap menunjukkan tren positif pada awal 2026,” ujarnya.

Selain itu, Nilai Asset Under Management (AUM) industri pengelolaan investasi serta Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga mengalami pertumbuhan yang kuat, didukung tingginya minat investor domestik.

Investor pasar modal Indonesia lanjut Bayu, jumlahnya terus meningkat dan telah melampaui 27 juta investor per 13 Mei 2026. OJK mencatat penambahan sekitar 6,71 juta investor sepanjang 2026, dengan dominasi investor ritel domestik dari kelompok usia muda di bawah 30 tahun.

Pertumbuhan investor aktif juga menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun, mencerminkan semakin tingginya partisipasi masyarakat dalam pasar modal nasional.

Sementara itu, Hendi Prayogi, Kepala Wilayah Lampung Kantor Perwakilan BEI Lampung      mengatakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat perkembangan positif pasar modal di Provinsi Lampung menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pasar Modal ke-48.

Menurut Hendi, pertumbuhan jumlah investor dan perluasan edukasi pasar modal menjadi indikator meningkatnya minat masyarakat Lampung terhadap investasi.

“Perkembangan pasar modal di Lampung menunjukkan tren yang positif,” ujar Hendi Prayogi.

Upaya literasi dan inklusi keuangan juga terus diperkuat melalui keberadaan Galeri Investasi BEI di berbagai daerah. Lampung saat ini memiliki 15 Galeri Investasi di perguruan tinggi, dua Galeri Investasi di lingkungan pemerintah daerah, delapan Galeri Investasi desa, serta empat Galeri Edukasi.

“Pertumbuhan investor pasar modal di Lampung terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir,” kata Hendi

Data menunjukkan penambahan investor pasar modal mencapai 47,98 persen dan 45,31 persen, sementara pertumbuhan terbaru tercatat sebesar 6,89 persen.

Jumlah investor saham di Lampung juga mengalami pertumbuhan signifikan. Pertumbuhan investor saham tercatat mencapai 40,13 persen dan 50,63 persen, dengan penambahan terbaru sebesar 12,22 persen.

Berdasarkan profil investor, kata dia, mayoritas investor di Lampung berasal dari kelompok usia muda dan produktif.

“Investor berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai swasta, ASN, hingga wirausaha” pungkasnya

OJK bersama pelaku industri pasar modal, pada kesempatan itu juga meluncurkan Program Nasional PINTAR Reksa Dana sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi investasi, khususnya di kalangan generasi muda. Program ini hadir untuk mendorong budaya investasi terencana dan berkala di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap produk reksa dana.

Program PINTAR Reksa Dana mengusung konsep investasi berkala atau Dollar Cost Averaging (DCA), yang dinilai cocok bagi investor pemula karena mampu mengurangi dampak volatilitas pasar, mendorong disiplin investasi, serta dapat dimulai dengan modal kecil.

Salah satu program unggulan yang diperkenalkan adalah “PINTAR Reksa Dana – SiMUDA Investasiku” yang menyasar investor usia 18 hingga 30 tahun. Program ini didistribusikan melalui tujuh agen penjual efek reksa dana (APERD) perbankan dan dikelola oleh tujuh manajer investasi yang berasal dari jajaran 20 besar perusahaan manajer investasi di Indonesia.

Produk yang ditawarkan terdiri dari reksa dana konvensional dan syariah dengan profil risiko konservatif, seperti reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap. Investasi juga dapat dimulai dari nominal rendah, yakni minimal Rp10.000, serta bebas biaya subscription, redemption, switching, dan autodebet.

Selain memperluas akses investasi melalui bank dan aplikasi digital, OJK juga menekankan pentingnya perlindungan investor. Masyarakat diimbau memastikan legalitas produk dan penyelenggara jasa keuangan sebelum berinvestasi, serta memahami manfaat dan risiko produk yang dipilih.

OJK menyediakan layanan pengaduan melalui Portal Pelindungan Konsumen dan Satgas PASTI guna menangani investasi ilegal dan penipuan berkedok investasi.(nely)

Editor : RB

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img