BANDUNG, DeRAP INDONESIA – Dalam idem bahasa Sunda, luluhur diartikan pada konteks silsilah, keturunan seseorang. Rama, aki , buyut, bao, udegudeg, janggawareng, talisiwur, seuweu -siwi , sekeseler. Ada yang sembilan ,9 keatas, atau yang 7. Namun yang sering terucap kata tujuh turunan (7). Silsilah ada yang terawat , terjaga, dan dijadikan patok untuk seseorang, bahwa orang tersebut, leluhur nya siapa? Geberasi Milenial , Gen Z..mereka sering abai. Mereka merasa cukup mengenal kakek (aki), tiga di atas , ke empat , ke 5 dst sudah tak kenal.
Tradisi untuk mengenal dan mengenalkan leluhur, dengan ziarah kubur, tawasulan, dan pada upacara adat lainnya. Disetiap Kabuyutan dan atau kampung adat , budaya mengenal leluhur tetap terjaga.
Acara ritual, tradisi yang sudah membudaya tsb , hampir tergeser oleh medsos. Orang lebih mengenal Mbah Geogle dibanding Mbah yang telah menjadi leluhurnya. Upaya yang dilakukan Kabuyutan untuk mengenalkan Leluhur yaitu dengan melaksanakan ritual , tradisi yang sudah membudaya, antara lain :.
1. Muharraman , setiap tanggal  10 Muharram (Asyura, Asyuro Syuraan , Syuroan), tradisi Syuraan, sangat beragam pelaksanaannya. Tari Saman Aceh, Tabut Pariyaman, Tabuik Bengkulu, Bubur Syura, Bubur Merah-Putih di Jawa , Badabus di Haruku, Debus di Banten..Kesemua tradisi ritual yang beragam adalah , untuk mengenang peristiwa hancurnya kemanusiaan, yakni terbunuhnya cucu Rasulullah saw, yaitu Imam Husein bin ‘Ali as di sebuah tempat yang dikenal Padang Karbala.;
2. Hajat Safar, tanggal 28 Safar , hari Rabu terakhir di bulan Safar , orang mengenalnya Rebo Wekasan, Rebokasan. Ritual, Tradisi di tiap tiap Kabuyutan ada kesamaan, hanya cara yg berbeda. Rebokasan adalah mengenang wafat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Semua pengikut Muhammad SAW (Muhammaden , Syi’ah Muhammad SAW). Ritual Rebokasan masih terjaga.;
3. Bagea Mulud , Muludan, Maulidan, menyambut, ngabageakeun , kelahiran Baginda Muhammad saw, ada yg melaksanakan tanggal 12 Mulud, 14 Mulud, dan 17 Mulud , semua ritual Muludan, terlaksana sesuai Adat Bidaya tiap2 tempat.;
4. Tradisi Ritual Kawin Cai , menyatukan air suci (Cai Kahuripan) , agar semua warga menyadari pentingnya tertanamnya rasa kecintaan pada tanah air ,Ibu Pertiwi, sebagai bukti penghormatan, Ajen. Ritual tsb dilaksanakan pada tanggal 21 Jumadil Akhir. Yang bertepatan dengan hari lahir putri Nabi SAW. Syayyidah Fathimah Az Zahra as , yangg menjadi berkah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Diyakini oleh warga adat sebagai air suci Fathimah, dan diyakini pula , bahwa air tercipta dari wujud cahaya Fathimah As. ;
5. Tradisi Ritual, Ruwatan Bumi, Ruwahan. Pelaksanaannya ada yang menyebut Ruwatan Lembur, Hajat Bumi, Sedekah Bumi. Hal tersebut biasa dilaksanakan, tanggal 15 Ruwah (15 Sya’ban , Nisfu Sya’ban), tanggal 20 Ruwah. Mengenai tanggal bisa sampai ahir Ruwah , sangat bergantung dan kebiasaan ditiap-tiap tempat. Hal tersebut, adalah untuk menyambut kelahiran Imam Muhammad al Mahdi af, sosok manusia terakhir, sebagai pewaris bumi, di Nusantara, tiap-tiap tempat disebut dengan gelar Ratu Adil Sejati.;
6. Ritual, Tradisi Seren Tahun . Tradisi ini, biasa dilaksanakan diahir tahun, ada yang melaksanakan tanggal 18 Dzulhijjah (Rayagung) , ada pula yang tanggal 20 Rayagung. Seren tahun , ritual untuk membacakan amanat Kanjeng Rasul SAW bahwa kepemimpinan Kemanusiaan diserahkan (diserenkan) dari Kanjeng Rasul saw kepada Bagenda ‘Ali as. Peristiwa tersebut disebut Idul Ghadir, Hari Raya Agung, Poe Nu Agung. Terkenal bulan Rayagung di Tatar Sunda, Nusantara. Penyerahan , esrafeta kepemimpinan Kemanusiaan dari Manusia Agung (MAUNG) kepada Manusia Unggul (MAUNG). Ritual tersebut direduksi oleh penjajah, menjadi Seba Panen ,(menyerahkan hasil panen), sebagai upeti pada penjajah, selakul penguasa di daerah , yang diberi kewenangan untuk mengambil has. (rls/dikdik)